
PERTAMA kali punya ponsel pada akhir 1998, sejak itu sampai sekarang saya telah lima kali kehilangan ponsel. Masih lekat di ingatan, pertama kali kehilangan ponsel saat dalam perjalanan naik Sepur Senjata Utama dari Solo ke Jakarta, tahun 2000. (Kala itu saya masih bekerja di Jakarta, sedangkan keluarga mukim di Solo. Setiap dua pekan saya wira-wiri Jakarta Solo pulang-pergi).
Ponsel Nokia jadul itu raib akibat kecerobohan saya : saya letakkan sembarangan, sehingga ketika saya tertidur maka dengan gampang diambil pencuri. Tatkala saya nglilir —sepur belum sampai Stasiun Jakarta Gambir— kantuk saya langsung hilang sewaktu tahu ponsel tersebut raib. Pada zaman itu mencari SIM card Mentari pengganti jika hilang relatif sulit, sehingga saya pun ogah mengurus ke pihak operator seluler yang kala itu masih bernama Satelindo (bukan Indosat seperti sekarang).
Selang sekian tahun kemudian, setelah saya bekerja di Surabaya, Jawa Timur, kembali saya kehilangan ponsel, juga sebuah Nokia jadul. Kalau tidak salah tahun 2007. Kali ini jatuh dari dalam ransel, gara-gara reslesting tas punggung itu tak terkancing rapat. Jatuh dari dalam ransel sewaktu saya naik Bus Eka-Patas dari Surabaya pulang ke Solo. Lagi-lagi karena kecerobohan saya. SIM card IM3 yang ikut raib tidak saya carikan pengganti; bukan karena prosesnya sulit namun lantaran hanya nomor cadangan.
Akhir Desember 2008, lagi-lagi ponsel saya hilang. Berbeda dengan dua ponsel sebelumnya, ini ponsel yang relatif bagus, dan mahal, yaitu Nokia Communicator (N9300). Juga, berbeda dengan dua ponsel sebelumnya, ponsel ini hilang bukan karena kecerobohan saya melainkan akibat kekurangajaran pencopet dalam sebuah bus mini jurusan Mojokerto-Surabaya!
Waktu itu, untuk menutup kekecewaan karena kehilangan ponsel bagus, selang sepekan kemudian saya membeli lagi Communicator. Lebih bagus, malah, karena pakai embel-embel seri i, yaitu N9300i. Namun, meskipun saya berhati-hati memakai dan merawatnya, ternyata ponsel-pintar ini pun akhirnya hilang. Kal ini, lagi-lagi akibat kecerobohan saya : jatuh dari dalam tas punggung yang resletingnya (lagi-lagi) tak terkancing rapat!
Ponsel itu hilang akhir Januari 2010, atau setelah saya pakai sekitar satu tahun. O, ya, sekitar tiga pekan sebelum kehilangan N9300i tersebut saya kehilangan ponsel Nokia jadul, yang jatuh saat saya pulang beribadat di Solo, malam hari tatkala gerimis.
Dua kali kehilangan ponsel Communicator membuat saya kapok memakai ponsel mahal. Kini saya gunakan dua ponsel Nokia seharga masing-masing Rp 245.000 dan Rp 535.000 seperti tampak pada foto di bagian atas naskah ini. Ponsel boleh murah —tetapi yang penting pulsa tak pernah kering— sehingga urusan telepon-menelepon maupun ber-SMS-an dengan istri dan anak-anak saya di Solo lancar-jaya.
Ping balik: colon cleansing facts
Ping balik: making money online
Ping balik: Asian Tiger Mosquito
Ping balik: Iron Deficiency Symptoms
Ping balik: Subliminal Messages
Ping balik: Subliminal Advertising
Ping balik: making money online
Ping balik: Place an add
Ping balik: What Causes Heartburn
Ping balik: Japanese Calligraphy
Ping balik: Iron Deficiency Symptoms
Ping balik: Work From Home
Ping balik: Acheter carte r4
Ping balik: senior picture ideas
Ping balik: Iron Deficiency
Ping balik: Iron Deficiency
Ping balik: Subliminal Messages
Ping balik: Heartburn Home Remedies
Ping balik: Asian Tiger Mosquito